Senin, 03 Januari 2011

Masjid dan Makam Mantingan Jepara

Masjid dan makam mantingan terletak +/- 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara, di desa Mantingan, kecamatan Tahunan kabupaten Jepara, sebuah desa yang menyimpan peninggalan kuno Islam dan menjadi sebuah masjid yang dibangun oleh seorang tokoh islamic yaitu PENGERAN HADIRI, suami Ratu Kalinyamat yang dijadikan pusat aktivitas penyebaran agama Islam di pesisir utara pulau Jawa dan merupakan masjid kedua setelah Masjid Agung Demak. Perlu diketahui juga bahwa di desa Mantingan mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Islam dengan mata penghasilan dari ukir-ukiran. Disamping itu disampaikan pula bahwa lokasi Masjid dan Makam Mantingan berdiri dari komplek yang mudah dijangkau dengan kendaraan roda empat dari berbagai jurusan dengan fasilitas sarana jalan aspal. Hal lain yang tidak kalah penting usaha pemda Kabupaten Jepara dengan instansi terkait bekerjasama dengan pengusaha angkutan sudah berupaya memberikan kemudahan transportasi menuju lokasi Obyek Wisata Sejarah ini dengan sarana angkuta jurusan terminal Jepara-Mantingan yang hanya ditempuh beberapa menit saja.


Sejarah dan Legenda

Diatas telah disebutkan bahwa Masjid Mantingan merupakan masjid kedua setelah Masjid Agung Demak, yang dibangun pada tahun 1481 saka atau tahun 1559 masehi berdasarkan petunjuk  dari Condro Sengkolo yang terukir pada sebuah mihrab Masjid Mantingan berbunyi '' RUPA BRAHMANA WARNA SARI'' oleh Putra R. Muhayat Syech Sultan Aceh yang nernama R. Toyib. Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan di Aceh ini menimba ilmu ke tanah suci dan negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islamiyah, dan karena kemampuan serta kepandaiannya pindah ke tanah Jawa (Jepara). Di Jepara R. Toyib kawin dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) putri Sultan Trenggono, sultan Kerajaan Demak, yang akhirnya beliau mendapat gelar ''SULTAN HADIRIN'' dan skaligus dinobatkan sebagai adipati Jepara (pengusaha jepara) sampai wafat dan di makamkan di Mantingan Jepara.

Dimakam inilah pangeran HADIRIN (Sunan Mantingan, Ratu Kalinyamat, Pati Sungging Badarduwung seorang patih keturunan China yang menjadi kerabat beliau Sultan Hadirin bernama CIE GWI GWAN dan sahabat lainnya di semayamkan. Makam yang selalu ramai dikunjungi pada saat'' KHOL'' untuk memperingati wafatnya Sunan Mantingan berikutnya upacara''GANTI LUWUR'' (Ganti Kelembu) ini diselenggarakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 17 Rabiul Awal dibarengkan dengan hari jadi Jepara.

Makam Mantingan sampai saat ini masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Pohon pace yang tumbuh disekitar makam, konon bagi ibu-ibu yang sudah sekian tahun menikah belum dikarunia putra diharapkan sering berziarah ke makam Mantingan dan mengambil buah pace yang jatuh untuk dibuat rujak kemudian dimakan bersama suami istri, maka permohonannya insyaallah akan terkabulkan.


Tuah lain yang ada didalam cungkup makam Mantingan adalah ''AIR MANTINGAN atau AIR KERAMAT" yang menurut kisahnya ampuh untuk menguji kejujuran seseorang dan membuktikan hal mana yang benar dan mana yang salah, biasanya bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya air kramat ini digunakan seseorang bila sedang menghadapi suatu sengketa dengan cara air kramat ini diberi mantera dan doa lalu diminum. Namun karena beragamnya kepercayaan masyarakat, maka silahkan bagi yang percaya dan tidak memaksa untuk yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar